Kehilangan saat jauh


19 desember 2012

Seperti biasa, dengan semangat membagi cerita hari ini kepada orang yang sangat tepat, Ayah sendiri. Papah memang menjadi teman bicara yang paling saya suka, bicara tentang apapun saya bisa lakukan dan nyambung. Partner paling pintar dalam berdiskusi.

Lalu tiba-tiba disela kita berbicara Papah bilang Inanillahi… ada apa? siapa yang meninggal?

Mak Iin, nenek saya, lebih tepatnya adik nenek saya tapi saya sudah anggap sebagai nenek sendiri karena rumah kita berdekatan dan hubungan keluarga kita sangat dekat. Mak Iin oleh keluarga besar saya dianggap sebagai nenek kita semua. Tak ada beda…
Dan kata Papah, kemarin malam Mak Iin wafat. Saya baru diberi tahu sore ini. Seketika saya menghamburkan doa-doa kepada almarhum, saya sedih tidak ada di kampung halaman saat itu. Jauh…

Taukah rasanya kehilangan salah satu keluarga dan saya tidak ada disampingnya, ikut membisikan kalimat syahadat ditelinga almarhum saat menjelang ajal, mengantarkan doa-doa serta lantunan ayat suci saat almarhum meninggal, lalu mengantarkan ke pemakaman terakhir almarhum. Sedih menghadapi kenyataan tersebut. Lagi-lagi saya hanya bisa menyalahkan jarak yang membentang dari Sulawesi ke Jawa. Jauh…

Disaat seperti inilah saya sangat menyadari bahwa jarak ini memang memisahkan dan menyedihkan. Jauh sekali rasanya. Sedih… tapi beribu kali saya mengucapkan jarak yang jauh, menuliskan jarak yang jauh dan bolak-balik menghitung jarak berdasarkan skala peta antara Pasarwajo dan Majalengka hanyalah sia-sia.

Akhirnya, semoga doa-doa saya malam ini sampai, saya tahu Tuhan akan mendengarkan semua doa-doa ini, maafkan dewini…

Dewini mendoakan dari jauh selalu :’)

Iklan