Liburan sederhana tanpa sinyal HP. Batauga Pulau Buton


Perjalanan dan tulisan kali ini saya persembahkan kepada 2 sahabat terbaik se-Pulau Sulawesi. Yuli Sopianti an Dedy Irvandy. Tiada weekend tanpa bertemu orang-orang terkasih dan tersayang seperti sahabat saya ini. kami putuskan untuk berkumpul dan menginap bersama di Bau-bau, tapi pasti bukan Abang kalau tidak memberi ide gila.

“Mari kita ke Batauga, 3 hari tanpa sinyal dan mencari ketenangan”

“SIAAAAAAAAAP !!”, Saya dan Yuli memang paling nurut sama orang satu itu.

Sabtu lebih pagi dari biasanya, saya dari Pasarwajo dan Yuli dari Dongkala bergegas ke Pasar Sabo untuk menuju Kota Bau-bau. Pukul 09.00 WITA sudah mendapat mobil angkutan umum, alih-alih bisa cepat sampai Bau-bau, ternyata angkot ngaret 1 jam. Cih! Akhirnya jam 10.00 baru jalanlah si Angkot ini. Meet point seperti biasa di Lorong Swiss tempat tinggal Abang. Cas cis cus langsung mencari angkot ke Batauga, kecamatan terpencil di Pulau Buton, Desa Poogalampa. Bersiap tanpa sinyal handphone.

Ojeg gratis, modal poto bareng

ojeg

Dari lorong swiss, kita berjalan ke Stadion Betoambari untuk makan siang, tapi karena meja satu-satunya ditempati orang, terpaksa gagal makan siang, tapi malah beli es teler dan pentolan goreng hampir 15ribu mungkin. Saya bingung antara lapar atau doyan.

Masih mencari angkot menuju Batauga, padahal gampang saja tinggal naik ojeg lalu ke Pasar Wamoe, tapi dasar si Abang suka maksa pengen jalan, jadilah jalan-jalan di tengah kota dan jadi pusat perhatian orang.

Entah kenapa tiap ada yang lewat selalu liatin dan minta dipoto gara-gara saya bawa kamera. Pertama saya tidak menggubris orang tersebut. Kedua kalinya ada orang yang minta dipoto lagi eh tapi dia bilang mau ngasih ojeg gratis ke Pasar Wameo, langsung saya iya-kan. Dasar modal gratisan :p
abang dan Yuli langsung pasang aksi poto bareng kumpulan orang asing di pangkalan ojeg, sementara saya disebrang jalan memotret mereka. Ah yang penting ojeg gratis sampai Pasar. Hehehee

Selamat datang dunia tanpa sinyal. Batauga, Poogalampa

panggung

Perjalanan melalui angkot menuju Batauga melewati jalur Goa Lakasa dan Pantai Nirwana. Jalanannya aduhaaaaaaaaaaaai bagus sekali (majas). Satu jam lebih melewati jalannan yang sangat membuat pinggang cekot-cekot.

“Kalau udah ga ada sinyal, berarti kita udah deket desa Poolagampa”

“Ah ga apa-apa, lagian siapa juga yang mau sms gw”, duh lagi-lagi saya meng-ironi-kan diri.

Lalu kita bertiga tertawa, tanpa memperdulikan penumpang angkot lain, ngobrol segala macem, ah selalu banyak hal yang asik saat bersama seperti ini, bahkan didalam angkot dengan jalan yang ajrug-ajrug-an.

“Wah.. udah ga ada sinyal. Berarti udah deket ya?”

“Iya..”

Dan jreng-jreng sampailah di depan rumah panggung yang ditempati Abang selama menjalankan tugas negara di Batauga ini. rumah panggung sangat sedehana, dengan jendela yang terbuka, pintu tak terkunci. Welcome to the real life, Batauga !

Pantai, mendayung dan perahu terbalik

panta

Setelah berdecak kagum dengan keadaan di rumah panggung tempat Abang tinggal, lihat juga akhirnya rumah yang selalu menjadi bahan perbincangan  antara kita.

Berburu pantai selalu menjadi agenda yang tak terlewatkan saat mengunjungi tempat baru. Cus cus cus.. jalan kaki sekitar 20 menit melewati sekolah tempat Abang bertugas, lalu menuruni jalan turun menuju pantai tersembunyi. Oia, perjalanan kali ini ditemani 2 murid Abang.

SMK

Pantai dengan pasir putih, sederhana, ditemani karang-karang dan pohon-pohon liar disekitarnya.

Hal gila selalu muncul, Abang menaiki sampan dengan muridnya ke tengah laut, mendayung, terlihat sangat asik. Ditengah laut, sampan terbalik, saya langsung sibuk mengambil poto Abang yang berjuang membalikan kembali sampan yang terbalik. Yuli tergoda untuk mencoba menaiki sampan. Lalu berdua bersama Abang, Yuli mendayung sampan ke lautan, lalu terbalik lagi si sampan kecil itu. Saya kembali sibuk poto-potoin mereka yang tertawa di tengah lautan dengan sampan terbalik. Sumpah, saya pengen nyoba. Tapi berhubung….. ah mau nyoba pokonya. Naik sampaaaan ! sambil mohon-mohon jangan sampai di ketengah lautkan sampan ini, bisa repot kalau sampan ini terbalik. Walaupun Cuma sebentar saya naik sampan ke laut, saya senang, Yuli senang, Abang senang. Kita memang paling ahli dalam urusan bersenang-senang.

Sepanjang jalan menuju rumah, kita selalu berdecak kagum dengan semua hal gila yang kita lakukan, tanpa rencana tapi selalu asik.

 perahuperahu 2

 

Kehilangan itu harus ikhlas

lost

Selepas magrib dan suasana kampung menjadi sangat sunyi dan temaram, berkumpul di dapur dan memutuskan membeli pisang untuk digoreng sebagai cemilan malam.

Dan jreng jreng…

“Pak Guru… tadi ada orang yang sepertinya ambil sandal”

“Hah? Dimana?”

“Itu tadi pakai baju coklat, celana pontong”

Abang langsung lari mengejar yang ambil sandal. Kebetulan ditangga rumah tadinya ada Sandal Rei merah punya Abang dan 2 sandal gunung Eiger dengan model persis sama punya saya dan Yuli hanya beda no sandal, yang tersisa hanya sendal Abang dan sandal Eiger dengan nomor 38, berarti yang no 37 yang hilang. Sandal punya saya.

Baru kemarin rasanya saya ngtweet seperti ini dan di cc ke Yuli juga. Sandal Eiger itu tidak awet karena dicuri. Hahahaa dan kejadian juga oleh Saya. Oke baiklah, nanti beli lagi berarti ya. Padahal sedih dong lagi bokek dan nabung buat liburan L

Pas lihat-lihat poto di Pantai, saya lihat ada poto saya dengan celana adidas dan botol minum adidas. Nah lo mana botol minum adidas saya?????? Ternyata tertinggal di pantai.

Astagfirullah.. hari ini 2 benda yang setia menemani kemanapun harus hilang. Tapi pasti ada maknanya kok dibalik kehilangan benda itu. Ikhlas dong ya J

 

Putar botol, Putar Kejujuran

pisang

Ayo putar botolnya, lalu lemparkan pertanyaan, jawab dengan jujur. Permainan dengan 5 orang, Saya, Abang, Yuli, dan 4 orang murid Abang. Permainan ini berlangsung dengan menyantap pisang goreng buatan saya.

Saatnya mengorek hal-hal yang nyeleneh dan gali informasi. Ternyata murid-murid Abang ini saling mempunyai perasaan satu sama lainnya saat ditanya dalam permainan ini. lucu.

Tak terasa, jam 22:30. Permainan berakhir dan saatnya murid sebagai tamu pulang.. lalu kita bertiga lagi.. membunuh malam, dinginnya rumah panggung tanpa jendela yang rapat, nonton film dan bercerita segala macam.

Sungguh suasana seperti ini yang saya anggap mahal sekali harganya, bukan sekedar hura-hura seperti biasanya ketika di Bandung nonton di Bioskop dan makan di Cafe, di rumah panggung yang sangat sederhana, kadang bergoyang seperti gempa saat tertiup angin atau ada orang yang berjalan. Waktu bersama sahabat terbaik inilah yang sangat saya butuhkam sekarang. Abang dan Yuli.. ah entahlah, saya sangat sangat sayang kalian ditengah semua masalah kita di daratan pulau ini

Tidur jam 2 pagi.. dan saya masih ingat saat tidur, hujan besar sekali dan mati lampu.

Pantai Jodoh dan Hujan-hujanan

BBkaos

Pagi jam 7 sudah ada murid Abang yang malam main mengajak ke Pantai Jodoh namanya untuk jalan pagi. Tanpa mandi, saya sarapan brutal minum teh manis dan 5 buah roti dan donat.

Untuk menuju Pantai Jodoh, diperlukan sekitar1 jam berjalan kaki melewati hutan. Dan baru saja 20 menit berjalan, hujan sangat deras mengguyur kami, langsung ketar ketir mengamankan kamera dan HP menggunakan daun pohon jati yang ukuran jumbo. Menyenangkan sekali hujan-hujanan kembali setelah sekian lama tidak melakukan hal tersebut. Kami menjadi pusat perhatian orang sepanjang jalan dimana mereka berteduh saat hujan, namun kami memilih menantang hujan.

Akhirnya sampai di pantai jodoh, pantainya sepi, kotor, tapi pasirnya PINK… Pasir yang berwarna pink lembut ini berasal dari pecahan-pecahan karang merah yang banyak juga ditemukan diantara pasir pantai. Saya habiskan waktu hujan-hujanan lagi di pantai, lari-lari, mungutin kerang lucu, ambil pasir pink ke botol aqua. Tapi kerang dan pasirnya dibuang sama temen saya paling rese se alam dunia. kampreeeet banget 😦

Puas main di Pantai Jodoh, akhirnya kami memutuskan pulang dengan hujan-hujaan kembali.. di perjalanan pulang ada hal menarik yang akan saya tulis dipostingan lain. Tunggu saja 😀

Hikmah dari liburan tanpa sinyal HP

Malam hari kedua kami habiskan tetap dengan menggoreng pisang, bercerita beberapa hal nostalgia…

Mengasingkan diri ke tempat semacam Batauga seperti itu merupakan liburan paling indah dalam artian tanpa beban, tanpa harus merasakan hiruk pikuk dunia maya yang selalu membuat ricuh… tenang rasanya… ditambah lagi dengan 2 sahabat yang paling bisa mengerti semua keadaan kita saat baik bahkan buruk sekalipun.

3 hari itu sungguh menyenangkan, akhirnya pulang kembali ke Pasarwajo dan merencanakan liburan sederhana dan tenang ke salah satu tempat di Pulau Buton, besoknya.lain   senda

Iklan