Surat untuk Buton. Terakhir


Selamat pagi pulau buton. Salam sayang dari penghunimu yang satu ini, yang sekarang dengan indahnya sudah meninggalkanmu kemarin sore.
Maaf baru bisa nulis surat sekarang, kemarin riweuh dengan jadwal kapal.
Oke…

Pulau Buton, Pulau penghasil aspal terbesar di Indonesia bahkan katanya di dunia juga. 3 bulan sudah saya menyandarkan banyak hal di daratanmu, bangun tidur sampai tertidur pula di Buton. Mengajar di SMK, berkenalan dengan keluarga baru, teman baru, makanan aneh, objek wisata yang mengagumkan, cuaca panas, dan pantai cantik.

Terimakasih yang sangat besar saya haturkan, tanpa di Buton selama 3 bulan mungkin saya bukan seperti sekarang yangΒ  jadi lebih berani, lebih kuat, lebih sabar, lebih dari sebelumnya, karena dari awal saya harus lebih baik disini, semua terbukti saya bisa lebih baik.

Terimakasih Ibu, Bapak, Awan, Arif, Madan. keluarga di Buton yang menampung saya selama ini. Banyak pelajaran yang saya dapat, dari sebaik-baiknya orang diperantauan, saya lebih butuh keluarga kandung saya di rumah. Terimakasih telah mengajarkan saya lebih banyak tentang bagaimana menjadi orang yang sabar.

Guru-guru di SMK. Saya banyak belajar, bahwa di sekolah itu bukan sekedar masuk kelas disaat bel berbunyi, tapi mendidik siswa ditengah keter atasan, motivasi dan semangat juang untuk lebih baik.

Kak Neni yang selalu ada disaat apapun, menemani ke dokter, mendengar curhat disaat terakhir.

Pulau Buton mengajarkan saya juga bahwa sahabat itu memang harta terbesar, banyak hal yang saya lakukan dengam sahabat, tertawa bahkan disaat hal terberatpun. How lucky I’m in…

Selamat tinggal Buton, semoga suatu saat saya mempunyai kesempatan untuk mendaratkan jejak kaki di pulaumu lagi.
I’ll miss you πŸ™‚

Hanif Kazwiniwati
Untuk Pulau Buton
Makassar, 26 Januari 2013

Iklan