Bromo dan Kuda


Kemarin travelling singkat di TNBTS atau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tapio yang saya kunjungi cuma Bromo. Berhubung Gunung Semeru yang hendak saya daki ditutup sampai bulan Maret, padahal fisik dan segala sesuatunya susah siap.
(Semoga kalimat terakhir ini tidak ada yang protes. Amiin)

Bromo dalam perjalanan kali ini saya namakan kursus menunggangi kuda dan hasilnya sukses besar.
Bagaimana tidak saya katakan sebagai kursus berkuda, dalam waktu 24 jam saya naik kuda 3 kali.

Pertama
image

Datang ke Bromo siang menjelang sore, disertai kabut yang dengan cantik melingkupi Bromo. Langsung nyari mas-mas yang nyewain kuda, melalui perantara Bapak yang kami temui dan ajak ngonbrol untuk menanyakan dimanakah mas-mas yang menyewakan kuda?? (Bukan saya sih yang ngajak ngobrol Bapak tsb, roaming banget bahasa jawa, rumit)
Maka setelah perdebatan yang alot datanglah 2 kuda yang akan mengantar kami mengelilingi perkebunan kol, kentang di sekitaran desa Ngandisari Cemoro Lawang. Bukit, perkebunan, kabut, cemara, udara yang dingin, berkuda, duh perfect banget sore itu.
Kuda yang saya kuasai bernama si Black berumur 5 tahun dan berasal dari Sumba dibeli saat 1 tahun usianya. Si Mas pemilik sekaligus guide saya nyuruh-myuruh saya bawa kuda sendiri. Saya sih langsung oke dan mau bawa kuda sendiri dalam artian mengendalikan jalannya kudu, nyuruh kuda belok kiri, belok kanan, nyuruh lari dan berhenti. Yaaaay senang. Si Kuda nurut dan baik bamget diajak jalan-jalan masuk ke perkebunan kol dan kentang sambil menerjang kabut dan dinginnya Bromo. Puas keliling sekitar 30 menit, jalan-jalan sore bareng si kuda diakhiri.

Kedua

Mengunjungi kawah bromo, pasti tau kan ya jarak yang agak lumayan jauh dari tempat parkiran jeep menuju tangga kawah itu jauuuuhnya hmmm ya gitu deh. Tapi berhubung saya adalah pendaki gunung newbi dan bukan alay, saya jalan aja dengan gagahnya tapi malah ditinggalin sama si Mitsuhiko (turis jepang yang gabung sama rombongan saya). Nunggu sebentar di Pura eh ternyata si pendaki gunung alay ga mau naik ke kawah. Akhirnya saya putuskan naik kuda dari Pura sampai ke tangga kawah. Bayar 30 ribu saja kata si Bapaknya, sayangnya saya lupa nanya nama kuda siapa dan umurnya berapa taun. Kuda yang saya tunggangi menuju tangga kawah berwarna coklat.
Dalam perjalanan dengan kuda kali ini saya tidak berani mengendarai kuda sendiri tanpa dituntun si Bapaknya, soalnya lalu lintas macet banget, kuda lalu lalang hilir mudik bersama dengan ratusan orang juga memadato jalan. Akhirnya saya cuma nongkrong manis diatas kuda. Tiba di tangga kawah saya tinggalkan si Kuda coklat tak lupa bayar uang.

Ketiga
image

Di Bukit Teletubis namanya, pas lagi foto-foto unyu diantara padanf rumput dengan bunga berwarna kuning dan ungu ada bapak-bapak yang nawarin naek kuda keliling. Entah kenapa mau aja naik kuda lagi.
Naik kuda di bukit teletubis lebih seru, saya dengan bebas dan liar mengendarai kuda sesuka hati, si bapak pemilik kuda cuma liatin aja dari kejauhan sambil nyuruh-nyuruh saya lari dengan kuda.
Sementara saya naik kuda ya tetep aja dong pengen si foto biar keren.
Berkuda di bukit teletubis ini mengukuhkan saya sebagai newbi penunggang kuda yang telah ahli.

3 kali naik kuda di Bromo membuat saya semakin berani menerima tamtangan hidup. Semakin berani berlari, berani belok kanan atau kiri bahkan berani naik kuda. Nah lo :p

So.. yang nanti main ke Bromo jangan lupa jalan-jalan sore naik kuda keliling perkebunan kol sambil menikmati udara sejuk bromo. Happy travelling.. salam nyengir kuda 😀

Iklan