Bromo ini ceritanya


IMG_0243

Yay, akhirnya ke Bromo. Hanya dengan rencanan dadakan yang diawalnya cuma becandaan dan berbekal percakapan singkat dengan yang katanya kuncen Bromo yang mengaku udah sering banget kesana, jadilah saya si anak kecil ini main ke Bromo.

Start dari Bandung pada hari rabu malam (06 Februari 2013) menggunakan kereta dari Stasiun Kiara Condong menuju Yogyakarta dulu. Karena sebelum ke Bromo saya habiskan dulu 2 hari di Jogja menemui orang-orang yang harus ditemui disana. 2 hari di Jogja cukup untuk keliling tempat makan, nonton film dan tak lupa absen dulu ke Malioboro.

Oke, perjalanan Bromo di mulai dari Jogja menuju Surabaya menggunakan bus malam. Menghabiskan sekitar 7 jam perjalanan, sampai di Terminal Purbaya atau Bungurasih masih pagi. Agar tetap cantik dan kece, maka saya putuskan untuk mandi di kamar mandi terminal sambil menunggu teman yang janjinya ketemu jam 06.00 tapi ternyata ngaret. Selesai mandi, sarapan dan minum kopi di toko donat, sekaligus tempat bertemu travellmate yang telah dijanjikan, akhirnya ketemu, cingcong dulu bentar. Lalu, berangkatlah menuju Probolinggo menggunakan bus.

Tiba di Probolinggo sekitar pukul 10.00, selanjutnya adalah mencari angkutan menuju cemoro lawang yang namanya bison.Β Karena isi bison masih belum mencukupi, jadilah kita harus menunggu muatan yang kuotanya 17 orang. Di tempat nunggu bison sekaligus tempat makan juga, bertemu dengan 2 sepasang mahasiswa dan backpacker asal Jepang bernama sampai saat ini masih saya perdebatannya (Mitsuhiko, Matsumoto, Matsuhiko, Michiko). Barulah saat tengah hari, bison mau bergerak dari Probolinggo menuju cemoro lawang dengan perjanjian ongkos agak naik karena kurang penumpang, dari 25.000 menjadi 35.000.

Menempuh 1 jam perjalanan menuju Cemoro Lawang, pemandangannya keren. Pohon di kanan kiri jalan yang akhirnya rantingnya bertemu dan membentuk kanopi untuk jalan, bagus. Belum lagi pemandangan kanan kiri yang hijau, jurang, perkebunan yang sudah jarang ada diperkotaan. Suasana makin dingin saat semakin masuk ke kawasan cemoro lawang yang menjadi titik awal menuju Bromo.
Tiba di Cemoro lawang langsung dicariin homestay sama bapak supir bison, rumah kecil dengan 2 kamar seharga 250.000 untuk 5 orang, tapi tanpa air panas untuk mandi, itu adalah masalah besar untuk cemoro lawang yang super dingin.

wpid-IMG-20130211-WA0001.jpg

Sore di Bromo ini sudah direncanakan untuk berkuda mengelilingi perkebunan di desa cemoro lawang. Ketemu bapak calo kuda, sepik-sepik pake bahasa jawa yang saya sama sekali tidak ketahui dengan pasti apa yang mereka bicarakan, akhirnya sepakat bahwa 50.000 untuk mengelilingi perkebunan.
Saya dapat kuda berwarna coklat tua bernama Black berumur 5 tahun berjenis kelamin laki-laki. Kata si mas pawang si Black, di Bromo itu tidak ada kuda berjenis kelamin betina, karena takut kalau kudanya malah pacaran bukannya kerja. Kasian kuda-kuda itu tidak merasakan indahnya mencintai. ini persoalan 😦

Malam menjelang, suasana di penginapan berubaha seperti lemari es, dinginnya sungguh tidak bisa ditolerir, mungkin juga saya kaget mendapati keadaan super dingin setelah hampir 4 bulan terbiasa di tempat panas pulau buton. Semua orang berlindung dibalik selimut, jaket, kaos kaki, sarung tangan. Dan rencana saya ngopi dengan cantik gagal total, pas bangun tengah malam dan menyadari ngopi ga jadi masih kesel. hahaha

Kerena rombongan kami menyewa sebuah jeep untuk tour 4 lokasi di Bromo seharga 550.000 (View Point di Pananjakan, Kawah Bromo, Bukit Teletubis, serta Pasir Berbisik), maka sekitar jam 03.30 dini hari, bapak supir jeep sudah standby depan rumah, sementara saya dan 2 teman lainnya dari jam 02.00 sudah bangun dan makan baso, sumpah deh jam 2 pagi ngebaso adalah pencapaian luar biasa dalam hidup. hahaha.

IMG_0200

Ceritanya mau nonton sunrise di Pananjakan, berasa nontonin parade kepala manusia dan orang yang berlomba-lomba ambil foto. Karena niatnya menikmati sunrise, ya saya cuma melototin langit sambil bergumam-gumam bikin puisi dalam hati. cieeee
Kalau mau puas melototin sunrise sih ga tau harus standby dari jam berapa biar dapat tempat strategis, atau mungkin lebih baik bawa tenda lalu camp disananya langsung.


IMG_0299

Selanjutnya adalah mendaki menuju kawah bromo. Lagi-lagi saya naik kuda, karena ketinggalan temen yang ternyata udah duluan jalan meuju kawah. Naik kuda dari pelataran Pura menuju bawah tangga kawah, bayar kuda seharga 30.000 dibayar kontan, sayangnya saya tidak kenalan dengan kuda berwarna coklat itu karena buru-buru. Kawah Bromo ini hampir sama saja dengan kawahnya Tangkuban perahu.
Oia, saya sedih disana banyak yang menjual bungan edelwis, alih-alih sebagai oleh-oleh dari bromo, tapi kan kasian bungan edelwis itu dilindungi. Si Mas nawarin saya buat beli edelwis, tapi saja tolak dan bilang kalau bunga itu dilindungi, lalu si Mas nya semyum, dan mengizinkan saya poto bareng. halah :p

wpid-IMG-20130211-WA0009.jpg

Kunjungan ketiga adalah bukit teletubis. Nah ditempat ini saya terkagum-kagum dengan bukit hijau ditambah dengan hamparan bunga-bunga kuning dan ungu yang saya namakan Unguwis dan kuningwis. Indaaaaah sekali pemandangannya, katanya juga dari bukit teletubis ini bisa tembus ke Semeru.
Disini, diracuni lagi sama bapak-bapak untuk keliling naik kuda, sebenernya temen saya yang ditawari naik kuda sekaligus melatih dia untuk bisa mengendalikan kuda sendiri, secara kalau saya sih sudah lancar. Eh tapi entah kenapa saya jadi ikutan naik kuda juga, tapi kali ini saya lebih liar, lari-lari sama kuda juga. Bukit teletubis ini cantik sekali, bagus buat poto unyu-unyu.

IMG_0346

Pasir berbisik menjadi tempat terakhir dari jeep touring kami. Pasir berbisik ini yang dulu dijadikan tempat syuting film dengan judul yang sama. Hamparan pasir seperti gurun hitam, berdebu dan banyak bertebaran batu, salah satunya adalah batu yang dari kejauhan berbentuk singa sedang duduk. Di tempat ini mungkin hanya sekitar 20 menit, poto-poto unyu lagi, lalu pulang.

Selesai acara jeep touring, maka kegiatan di Bromo berakhir pula, beres-beres rumah dan persiapan pulang kembali ke tempat asal masing-masing. Sekitar jam 11.00 tiba di rumah dan telah cukup siang, tapi dari ke 5 orang dalam rombongan cuma saya yang memutuskan mandi dengan sempurna, yang lain cuma mandi-mandian saja.

Dijemput bison yang hari sebelumnya membawa kami ke cemoro lawang, maka dengan bison itupula kami dibawa meninggalkan cemoro lawang menuju Probolinggo, dengan diiringi hujan. Tiba di Probolinggo, makan siang ditempat yang dulu mempertemukan kami dengan Mitsuhiko, lalu melanjutkan perjalanan menuju Surabaya kembali dengan bus.

Di Surabaya, kelompok pecah, berpisah. Mitsuhiko menuju penginapan, Kuade menuju kandangnya kembali, saya menuju jogja lagi.

Bromo, kabut, kuda, perkebunan, mitsuhiko, selimut, novel, khayalan cafe 50M. Menyenangkan sekali.

IMG_0164

IMG_0328

IMG_0333

IMG_0317



Iklan