Drama Ulang Tahun


 

Lewat drama manis Tuhan menuliskan satu lagi manusia untuk lahir ke dunia, maka saya ada.

Saat itu orangtuaku saling mencintai, menjadikan cintanya hakiki lewat janji didepan penghulu, lalu menghalalkan tugas dari Tuhan, lalu di Maret ke tiga pada hari minggu akupun terlahir kedunia.

Sekarang, demi eksistensi kehidupanku masih berlanjut maka setiap tahun aku mengulangnya, mengulang angka 3 dibulan ke tiga itu. Aku berulang tahun, kata mereka, kata akte yang aku sudah pastikan dengan jelas. Aku hanya takut salah tanggal, maka selalu kupastikan pula pada Ibu untuk menceritakan setiap detailnya tentang hari itu, hari kelahiranku. Aku tak ragu.

Ditahun ini, entah mengapa aku menjadi risau sendiri. Mewanti-wanti sendiri untuk mempersiapkan sesuatu yang harusnya beda, lebih, berwarna. Berhasil lah aku.

Bukan, bukan ketenangan semacam Ubud dengan kelas Yoga, bersepedah layaknya film eat, pray and love, atau sekedar bersantai di Pantai Kuta yang pernah kususun rencananya. Aku meyakini ini gagal. Atau kuhabiskan di puncak Papandayan, ah inipun sama gagalnya. Akhirnya, kusandarkan harapan beserta doa-doa di sebuah Sanggar Anak Studi Biru.

Bukan gemerlap, bukan sebuah tart super legit berlapis coklat manis bertahtakan lilin angka.
Hanya gemuruh suara lagu ulang tahun membangunkan tidurku yang kala itu beralaskan lantai, dinginnya bukit, riuh para teman yang saling mengucapkan selamat. Tapi damai, ada perasaan haru teramat dalam. Aku bahagia malam itu.

Ya, hanya sebatas itu. Aku bahagia, sangat dalam.

IMG_0180

Iklan