Minum air asin di Kampung Bajo


“Kok airnya asin ya?”, bisik saya kepada Yuli yang saat itu duduk disebelah.

“Iya, Nif. Asin ya.”, sambil dia mencoba meminum air teh tersebut untuk memastikan sekali lagi bahwa air tehnya asin.

“Yaudah minum aja, ga sopan kalau ga diminum, mungkin ini minuman normal kalau di kampung bajo”, sekali lagi meyakinkan Yuli.

“Iya, minum aja”, Yuli meneguk gelas air tehnya sekali lagi.

IMG_1179-horz

Bertamu ke Kampung Bajo Bantila

– Kampung Bajo –

Masih teringat jelas, hampir setahun lalu saya bersama teman dari Bandung yang saat itu bertugas di Buton mengunjungi Kampung Bajo Laut di Wabula, sebuah Kecamatan di Pulau Buton yang memiliki kampung bajo laut. Saya memang dari awal ingin sekali mengunjungi kampung bajo, terlebih Ayah saya memang dari awal mencekoki cerita tentang kampung bajo yang pasti ada di Buton.

Kampung Bajo laut yang dipikiran saya adalah letaknya di tengah lautan, dimana kita harus naik perahu dulu untuk sampai kesana, tiap rumah berjauhan dipisahkan lautan, semua kegiatan di lautan. Namun tidak untuk Kampung Bajo Bantila di Wabula ini, letaknya yang dekat dengan daratan masih bisa dijangkau dengan motor. Ada sebagian rumah yang sudah memakai pondasi tanah di bagian laut yang dangkal, ada rumah yang sudah memasang antena parabola, hampir sebagian besar punya TV di rumahnya, dan hampir tiap ke kampung bajo saya liat ‘bencong’.

Pertama kali ke Kampung Bajo Bantila ini saya sangat senang, melihat sebuah perkampungan yang jauh berbeda dengan yang biasa saya temui di Jawa Barat, masyarakatnya yang hilir mudik lebih banyak dengan sampan, anak kecil yang berlarian dan minta di foto, ibu-ibu dengan bedak dingin menghiasi muka di senja yang indah, jembatan kayu penghubung rumah ke rumah yang lapuk, ganggang laut yang membuat air laut dibawah kampung membuat kesan mistis, serta keramahan salah satu warga yang mempersilahkan saya masuk ke rumahnya. Kesempatan emas, seperti emasnya senja yang akan kami jemput sore itu.

Bertamu ke salah satu rumah di kampung bajo merupakan berkah bagi mereka, mereka bilang “Kita besok akan dapat 5 tuna besar”, kami berlima bertamu ke rumah seorang warga nelayan yang mempercayai bahwa esok hari akan dapat tuna besar karena kami bertandang ke rumahnya, maka disambutlah kami dengan hangat, disuguhi dengan segelas teh manis, serta roti. Semoga kami membawa keberuntungan, katanya.

Tersajilah teh manis dalam gelas bunga-bunga, teh manisnya panas, dan saya haus. Gelasnya masih saya raba, panas sekali, tapi saya beranikan diri untuk minum.

Tegukan pertama, emmmm. Ada yang aneh.

Sekali lagi, iya aneh. Ada rasa yang salah dari dugaan pertama tentang status si gelas corak bunga-bunga ini. Bukan teh manis. Segelas ini rasanya asin.

Saya mulai berpikir bahwa, iya ini adalah segelas air asin, wajar. Ini adalah kampung bajo laut, berprasangka bahwa air ini adalah khas dari kampung bajo, air asin, air laut yang dipakai minum, kalau saya protes maka saya tidak menghargai adat mereka, karena kehidupan mereka di atas laut, maka wajarlah airnya asin juga.

Saya mulai melirik Yuli, teman saya yang disebelah, mata kita beradu dan berbicara dengan bahasa-bahasa mata.

“Kok airnya asin ya?”, bisik saya kepada Yuli yang saat itu duduk disebelah.
“Iya, Nif. Asin ya.”, sambil dia mencoba meminum air teh tersebut untuk memastikan sekali lagi bahwa air tehnya asin.
“Yaudah minum aja, ga sopan kalau ga diminum, mungkin ini minuman normal kalau di kampung bajo”, sekali lagi meyakinkan Yuli.
“Iya, minum aja”, Yuli meneguk gelas air tehnya sekali lagi.

Tuan rumah bergabung dengan lingkaran kumpulan kami, berbincang dan sampailah ketika sang tuan rumah meneguk gelasnya, si air manis yang ternyata asin. Saya perhatikan raut mukanya berubah, masih saya ingat saat dia meneguk lagi air tersebut dan tiba-tiba berteriak.

“Mi……… airnya asin………. saya campur garam bukan gula ke gelasnya”, dengan muka merah si tuan rumah yang masih muda itu berteriak dan malu-malu membenamkan mukanya ke dada suaminya. Mereka pengantin baru.

Seketika kami tertawa, dan mulai berani berujar bahwa air yang tadi kami coba minum rasanya adalah asin. Ternyata air asin itu bukan karena air laut, bukan pula yang jauh saya bayangkan bahwa itu air penyambutan yang rasanya khas kampung bajo laut. Ternyata hanya teh manis yang salah lahir bukan dari gula.

Tragedi air asin itu membuat kami tertawa diantara senja yang datang menjemput. Maka kami diantar menuju tengah laut lepas, melihat senja diatas perahu motor diujung kampung yang jauh, di laut lepas, saat itu senja emas, disertai burung yang berterbangan, laut memantulkan warna yang membuatku jadi rindu kembali lautan.

IMG_1199

Anak-anak kecil yang minta berfoto

IMG_1173

Jembatan tua penghubung rumah

IMG_1229

Bersama pelaut yang memberi senja emas

IMG_1245

Hadiah paling indah, senja yang emas

***

Cerita manis yang ketika diingat membuat seluruh tubuh ini merindukan Pulau Buton dengan sangat. Rindu dengan lautnya yang 4 bulan dulu menghitamkan bagian kaki saya, rindu dengan udara panasnya, rindu yang menggelora disaat seperti ini saat sendiri.

Semoga kita bisa berjodoh lagi ya, Pulau Buton. Salam untuk Pasarwajo juga. Selamat pagi dari daratan Jawa bagian barat.

Iklan