Antara Ubud dan Bogor, Bandung di Danau Toba


Tegallalang ubud

Perjalanan sebagai manusia yang pernah punya hati, yang pernah punya cinta, pada tulisan ini mari kita kesampingkan atau kebelakangkan kata cinta.

Antara Ubud, Bogor dan Bandung ada banyak garis yang saling bertautan, masih sangat jelas dalam segala rasa, bagaimana aku meleleh di Ubud, diluluh-lantahkan di Bogor, dan berdiri di Bandung.

Aku mencintaimu, jangan pernah lupa itu
Berhentilah berbicara. Aku mengenal setiap inci dirimu. Jadi diamlah, karena aku tau semua hal yang bahkan tak kau utarakan. Malam ini, kita sedang tidak berbicara yang itu-itu saja. Izinkan kita diam. Lalu memaknai semuanya, perjalanan ini, perjalanku.
Ubud, 24 Maret 2013

Sampai kapan aku akan terus menulis mengenai Ubud, mengenai bahwa aku disana betapa sangat buta, mencintai tanpa berkesudahan lalu berkeping-keping tak lama setelahnya, dan sekarang hanya bisa tertawa mengingatnya. Tapi bukankah hidup itu tentang perjalanan dan pengalaman?
Sebut saja aku sudah sangat berpengalaman dalam urusan ini, terlebih dengan perasaan yang bernama jatuh cinta. Sayangnya, aku resign dari pekerjaan itu. Aku pengangguran sekarang.

…… … ……….. … . . . . .        .   .   .
baiklah aku bisa pulang sendiri, ini hanya Bogor yang jaraknya sekedar 4 jam dari Bandung. Yang lainnya bisa kusimpan sendiri.
Bogor, 21 Juli 2013

Semenjak itu, tepat semenjak aku mengenal kota hujan, maka hujanlah seluruh rasa jatuh cinta itu, entah banjir, entah bandang, meluap, lalu lenyap pula seketika, ketika tak ada alasan dan lain-lainnya.
Aku pulang sendiri untuk perjalanan Bogor-Bandung yang ternyata sangat jauh, tidak sekedar 4 jam saja ternyata, hampir 5 tahun lamanya. Bogor-Bandung itu makan waktu 5 tahun, mengulang, membongkar perjalanan dari titik ini ke permulaan, lalu bergerak maju lagi sembari menghapusnya satu-satu. Lepas-lepas satu-satu. Sampai Bandung kembali, aku kosong.

Waktu berlalu, melemparkanku pada daratan tak punya rasa…

I hope you see my heart from here,
And I hope that this will make us strong,
I hope the truth has made it clear,
And I hope that we can learn and move on,
This time the stakes are way too high,
I see what I’m about to lose,
It’s time I let the old me die,
Mistakes or love I gotta choose.

***

Sementara puluhan jejak berhasil disusun kembali, aku lupa sampai suatu ketika aku berhasil menulis catatan paling rusak. Di tempat paling luas, di tempat yang paling aku suka.

“Nanti malam kayanya enak kalau nulis disini”
“Ngapain? malam serem kali duduk disini, banyak hantu di danau toba”
“ha ha ha, cita-cita tau nulis di dermaga gini, harusnya sih di dermaga laut, ga apa-apa di danau juga”
“mending tidur deh”
“sayang kalau tidur, nanti malam pasti bintangnya banyak”
“….”
“…”

Dalam sore paling damai, di ujung barat nusantara.
Disebrang sana seorang teman sedang memadu cinta di udara, menghubungi kekasihnya yang dipisahkan jarak antara Sumatera-Jawa, berujar kangen seribu kali yang tak bisa usir rindu,
aku sedang tiduran dengan kain ulos warna hijau ditemani laki-laki yang baru dikenal sebulan lalu saat menjemput ke stasiun kereta api. Sore itu, kita duduk di dermaga kecil di ujung danau toba, kita tak pernah bicara tentang rasa, aku lupa punya rasa, hanya tawa-tawa yang dilempar ke udara.

 

***

Jauh diluar kepala, ku lempar banyak rasa ke langit yang muram menuju senja, ah aku rindu jatuh cinta.
Danau Toba, 1 November 2013

Iklan