Dalam Bandung yang tenggelam


20140107-040555.jpg

Banyak yang berbicara bahwa Bandung bagi mereka bukan masalah letak geografis, melainkan masalah perasaan. Kurang lebih bahasanya adalah seperti itu. Bagi mereka Bandung adalah tempat yang Tuhan ciptakan untuk selalu jatuh cinta, lewat apapun, lewat matahari yang tenggelam, pedagang bunga di sepanjang jalan Dago, gerimisnya, batagornya, angkot, bahkan macetnya sekalipun menciptakan puisi.

Dalam sore yang entah keberapa, Warung Daweung menjadi tempat berbagai macam perasaan tercipta. Anak SMP yang mencoba merokok sembunyi-sembunyi, Abege SMA yang memakai mobil orangtuanya memaksa naik ke bukit tapi tak kuat, abege SMA lain yang sedang getolnya merayu sambil membawa bunga, rombongan mahasiswa tertawa keras-keras belum kenal apa yang disebut tugas akhir, mahasiswa dengan tugas akhir buntu ketikannya harus berbuat apa. Satu lagi, aku yang kedinginan memakai jaket warna hitam tapi masih tetap menggigil.

Warung Daweung bagiku, adalah Bandung keseluruhan yang selalu membekas. Matahari tenggelamnya yang sore itu tak emas, kopi yang cepat sekali dingin, kopi kedua yang tak kunjung datang, lalu setumpuk perasaan yang masih loncat-loncatan.

Nasing goreng kambingnya lupa dipesan, mungkin ini yang dinamakan penyesalan. Bandung makin enggal ku tinggalkan.

Iklan