Jendela, ah aku kalah.


jen·de·la /jendéla/ n 1 lubang yg dapat diberi tutup dan berfungsi sbg tempat keluar masuk udara; tingkap; 2 lubang angin;
— cahaya jendela yg dibuat untuk mendapatkan cahaya dr luar;
— langit jendela berupa lubang di atas langit-langit dsb untuk meneruskan cahaya matahari dan mengalirkan udara ke dl ruangan di bawahnya.


***

Nona, apakabar? perihal aku yang selalu mengintaimu dibalik jendela adalah rahasia umum bagi kita berdua. Kau sadar, akupun sadar kau sadar, tapi terimakasih telah berpura-pura tak sadar ketika aku memandangmu lekat-lekat, kau membiarkanku puas menjalani peran pemuja rahasia.

Nona, buku apa yang biasa kau baca? sampai kadang tawa renyahmu tercecer ke sudut jendela. Kau boleh aku menawar pada Tuhan, aku ingin jadi sampul buku itu, lekat dalam jepitan kedua tanganmu yang mungil. Akupun mengira si buku bersampul hijau itu kau bawa tidur, bila aku jadinya maka aku akan melewati beberapa malam di ranjangmu.

Nona, lewat jendela ini aku menerka-nerka bagaimana rasa coklat panas yang selalu kau minum di 10 menit kedatangmu dibalik jendela. Uapnya menyeruak keluar dengan jelas dalam 10 meter pandangan mata, tepat sebelum bibir mungilmu menempel ke sudut gelas ada senyum  tergantung indah pada wajahmu yang terhalang jendela. Itu canduku, Nona. Aku bersumpah ingin menjadi gelas itu, biar kau selalu memberi candu itu, biar aku sekaligus bisa tau apa rasa candu itu. Tapi jendela selalu jadi penggugur candu itu.

Tapi aku kalah.

.

Nona, pada baris 10 aku memutuskan menyudahi ini semua. Ah aku kesal sendiri jadinya pada itu jendela, kenapa dia tergantung disana, menghalangi kau, aku. Terlebih aku kesal pada sendiri, aku yang belum berani membuka jendela rupanya. Ah Tuhan, ayolah beri aku sedikit berani untuk melewati, bahkan membuka semua jendela disini, disana, jendela pada diriku, mengajak kau membuka jendelamu.
…… Sebentar, beri aku 10 menit untuk berpikir, bernafas, menyiapkan kata-kata penawar.

Pada menit ke 8. Aku menghimpun kekuatan, mencuri pandang pada kau yang-ternyata-sedang-memandang-juga-keaarahku. Matilah aku. 4 detik aku beku. Sejak menit keberapa dia menerobos jendela itu.

Aku hampir beranjak tak kuasa dalam tatapannya. Aku memutuskan pulang. Aku meneguk habis kopi yang tersisa dan mulai dingin, memanggil pelayan untuk membayar secangkir kopi. Aku tersudut, lalu aku sadar, aku yang tak siap membuka jendela nyatanya. Aku kalah.

Nona, aku pergi.
Untunglah aku masih waras, ku tinggalkan secarik kertas, ku tuliskan kata-kata yang baru kusadar 1 menit yang lalu. Tapi aku terlanjur kalah.

“Akan ada cerita yang berbeda tiap kita membuka jendela”

jendela

***

Nona, aku menulis semua ini dibalik jendela. Apa jadinya bila jendela ini tak ada, maka Nona tak ada, Aku tak ada, cerita ini tak akan pernah sampai. Tapi, payah sekali aku, Nona. Dalam ceritapun aku kalah.

Nona… ah ini gila, senyummu yang ku curi dibalik jendela masih jadi candu.

Iklan