Surat untuk satu pagi dititik ketinggian Majalengka


Selamat dini hari, Ilalang.

Alarm sudah di set pukul 04.30, perkara aku bisa bangun tepat disaat alarm berbunyi atau tidak itu adalah takdir semesta. Bila aku bangun, kamu mungkin sedang membaca tulisan ini pada satu pagi dititik ketinggian Majalengka. Bila semesta tidak mengizinkan, kamu sedang duduk di kursi kereta, menuju Ibu kota. Tapi aku pastikan seribu kali, pilihan terakhir itu tak akan terjadi.

IMG_5185[1]

Kamu sudah tau kan, aku suka sekali memberi nyawa pada benda-benda mati? Sekarang saatnya aku sedang memberi satu nyawa pada sebuah surat elektronik. Bekal untukmu, sebuah tulisan bocah yang jadinya berlagak dramatis.
Bagaimana perasaanmu pagi ini? Semoga jalan kedepan semakin bahagia.

Katamu, aku lebay dan berlebihan, tapi tetap manis disaat kau pikir bahwa tak akan ada yang akan bertingkah sepertiku ini. Dimana suatu subuh, kita pergi sembahyang bersama, pergi melihat matahari yang perlahan muncul dari belakang gunung ciremai, sarapan telor mata sapi dibawah anginnya kota angin. Sambil kamu membaca surat ini.

Mengenai segala hal yang datang lewat kelucuan-kelucuan semesta ini, aku ucapkan selamat kembali lagi pada duniamu. Karena angin sudah berhembus kencang kembali, kembang api sudah dilempar keudara pada malam itu, ilalang terakhir sudah kupetik dan layu.

Sampai jumpa kembali, dimanapun.

IMG_5189[1]

 

IMG_5187[1]

IMG_5154[1]

Iklan