Jogja 30 jam saja


Awake at Yogyakarta disabtu pagi. Langsung saja path heboh, kenapa bocah ini tiba-tiba ada di Jogja, padahal waktu malamnya masih haha hihi di kantor. Mereka selalu menyebut saya implusif, padahal kan pisscess tu sofly kalau cancer baru implusif.  Maka pagi itu bertemulah dengan Iki dan Opel di Malioboro. Jogjaaaaa, aku padamu. Ternyata tanpa rencana bisa juga kabur ke Jogja saat weekend.

Akhirnya, implusif trip ini berjalan sangat menyenangkan dan sedikit gila, sabtu pagi sampai minggu siang, lalu pulang kembali pada realita di kota pinggiran majalengka untuk menunaikan tugas mulia pegawai kuli bangunan.

Setelah kondangan ke daerah penuh kenangan buruk di sekitar ringroad utara, kita bertiga sewa mobil untuk menjajal Jogja yang dua hari itu hujan terus, jadi makin berhasrat untuk punya pacar biar bisa mengganti kenangan buruk di Jogja dengan kenangan indah, halaaaah.

Tujuan pertama adalah ke Kebun Buah Mangunan di daerah Imogiri. Dimanakah letaknya? Semua gara-gara instagram, tetiba ingin kesana untuk feed instagram yg lebih baik. Bermodal Waze berangkatlah ke Imogiri menembus hujan, jalan kecil, sepi, nanjak, kabut hutan pinus, sore-sore yang hujan sampailah disana yang sangat sepi. Mungkin waktu terbaik menikmati pemandangan Kebun Buah ini saat pagi hari. Dimana kabut menyelimuti bukit dikejauhannya.
image

image

image

image

image

Di taman buah sampai magrib, langsung balik arah dari Imogiri ke Jogja, sebelumnya karena hujan dan lapar kita habiskan malam dengan pesta kambing, makan malam sate klathak, tongseng kambing dan tengkleng kambing. Akibat makan kambing itulah semalaman emosi meningkat.
Di kota, kita malah bingung mau kemana, tadinya niat ngopi di Semesta, berhubung penuh dan punya banyak kenangan indah buat Iki tapi kenangan buruk untuk saya, maka dibatalkan, melipirlah ke Omah Kopi Sedulur, kedai kopi sederhana nuasa Jogja yang kental, malam itu saya pesan kopi aroma durian. Ditambah singkong rebus pulen ditaburi keju.

Malam hatinya kami langsung menuju gunung kidul. Bayangkan tengah malam ke gunung kidul melewati jalan sepi, berkelok dan gelap, takutnya sih ada penjahat. Parkir mobil tepat jam 1 malam di pantai siung yang kala itu ramai oleh beberapa kelompok pasang tenda, setelah ritual makan mie rebus, charger powerbank, gelar lapak di mobil.

Bangun pagi di pantai siung malah hujan dan mendung.
image

image

image

Selesai hujan, dilanjutkan ke Pantai Jogan yang punya air terjun dan wediombo yang karakteristik pantainya berpasir putih, berbatu, karang, ombak besar, penyayang, posesif, agresif, dan cemburuan.
image

image

image

image

image

image

image

image

image

Yaaaap, selesai perjalanan di Jogja keliling pantai. Pulang lagi ke arah kota, makan ayam geprek, ke stasiun, lalu pulang ke Majalengka.

Perjalanan dari Jogja Majalengka akhirnya berakhir di hari senin pukul 3 dini hari. Hanya ada 3 jam sebelum memulai lagi kerja di hari senin. Alih-alih kelelahan, yang ada saya makin semangat kerja, semangat untuk terus liburan .

Terimakasih Iki dan Opel.

Iklan