Berunding untuk kalah


image

Rambut pendeku hari ini jadi keriting, setiap berjalan dia menggantung-gantung, bergerak sangat lucu, aku tertawa melihatnya, ini yang aku mau dari dulu. Mungkin besok aku akan membuatnya jadi permanen ke salon. Hidup itu penuh kejutan, tapi aku tidak akan sampai membuat rambut jadi panjang, tidak akan jadi suka dipanggil ‘neng’, tidak akan percaya bahwa coklat bisa memendam gundah.

Sore yang tak hujan, sore dengan sisa rambut keriting yang tak lagi menggantung-gantung, sepertinya aku mulai berunding untuk kalah. Aku seperti pernah menulis kata ‘Maaf, aku menyerah, aku kalah’ tapi entah dimana tepatnya.

Pada tebing-tebing tinggi dimana ilalang dapat tumbuh dengan liar tapi bukan musimnya lagi sekarang, pada angin-angin yang tak berhembus sepoi-sepoi karena digantikan hujan, pada matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Aku mendadak kehilangan kesempatan setelah banyak berujar dalam-dalam, mewanti-wanti untuk tak lagi bodoh, meneriaki hati untuk tak lagi lemah. Aku menyerah, aku kalah.

Sementara disana . . .

*

Salam, Nona.
Pagi ini, aku menjemput embun-embun di ilalang diantara pagi yang tak pernah lupa janji bersama matahari terbit. Bahwa sesunggunya Aku hanya diutus bunga-bunga warna emas untuk memastikan hati Nona tidak mati, untuk menengok apakah hati Nona masih bisa berbunga-bunga warna pelangi seperti dulu. Sudah merasakan lagi Nona? Ah baiklah, tugasku selesai.
Aku pergi Nona, baik-baiklah disana, tempatkan hati pada tempatnya. Rasakan apa yang bukan samar-samar. Kembalilah memetik ilalang, mengaguminya, lalu kau buang ke air terjun. Seperti itulah kembali, setidaknya kau akan baik-baik saja.

Nona, jangan menyangka kita harus selalu menyelesaikan satu putaran permainan, aku bukan pemainnya, dan kau, Nona, tidak pernah benar-benar bermain denganku, aku hanya sekilas menemami dan kembali pada titah sang bunga-bunga emas untuk memastikan hati Nona tidak mati.

Tugas selesai,

Nona senang,

aku pulang.

Ingat Nona, jangan pernah merasa kehilangan, karena sebanarnya kamu tidak pernah memiliki. 

*

di Sore, di mata yang tak terjangkau. untuk bunga-bunga emas.

Iklan