Pada sempat


Saya kembali merengek pada jam dinding, jam ikan di meja, pada jam tangan serta jam di ponsel, betapa waktu gampang sekali menipu. Waktu menculik dia lagi.

“ada baiknya saya tidak pulang dulu, biar kau selesaikan persoalan itu. Harusnya kau berdamailah, bersabar pada jumpa yang selalu aku buat hanya untuk kau.”

Pada hitungan ketiga, dia hilang, lalu entah. Belum sempat dia tanyakan padaku mengenai rambutku yang sebenarnya makin pendek, belum sempat juga dia saya buatkan roti coklat kesukaan, lalu tak sempat pula dia baca buku coklat tentang segala cerita, belum sempat juga dia bertanya apakah saya akan baik-baik saja bila pada hitungan ketiga dia tak ada. Dia hanya sempat bilang, dia menyesal bila tak jumpa saya hari itu, walaup banyak yang tak sempat lain-lainnya.

Segala gelap. Tak ada lilin tengah malam dari sang jagad, tak ada riuh-riuh. Saya lelap sedemikian, sampai hari bagai tak ada apa-apa.

“Kau harusnya tak usah cemaskan temu, kita selalu punya waktu. Biar aku yang beli detik-detik itu, biar kau tak cemas bila aku tinggal-tinggal, karena kau yang punya detik itu.”

Selang hitungan ke dua, awan makin gelap, hujan tak kunjung reda, banyak tulisan di buku coklat yang hanya jadi tulisan, pulanglah, baca dulu.

image

Iklan