Surat cinta yang pertama


image

Sampailah akhirnya aku pada surat cinta yang pertama.

Setelah serangkaian dulu tak bernama, kini ia menjelma jadi cinta. Barangkali akupun baru kali ini saja menyebutnya cinta. Demikianlah pada cinta yang awalnya tak pernah kita niatkan beri nama, tak pernah kita niatkan untuk sama-sama terjun jatuh dalam-dalam biar jadi jatuh cinta. Sedang cinta nyatanya dalam duniaku memang tak pernah nyata.

Kiranya cinta itu adalah kita, atau kita adalah cinta. Maka aku adalah yang sebenarnya tak ingin jatuh kedalamnya, akan sakit bila harus bangkit dari kejatuhannya, akan merana juga bila cinta akhirnya meninggalkan hanya salah satunya saja yang mencinta. Adakah yang lebih baik daripada saling cinta mencinta yang hanya diam, atau cinta cintaan yang telanjang ditonton semesta, ah bisakah cinta cinta cinta ini hanya sebuah gambaran atau potret dari matahari terbit dan tenggelam, indah, tak pernah ingkar janji.

Lalu biasakah cinta sedamai pagi dengan secangkir coklat panas dan jendela yang terbuka, bukan pagi yang rusuh diselingi kopi serta kipas angin yang berputar-putar. Jenis cinta apakah yang kita selami ini.

Pernahkah kamu mengingat-ngingat kapan kita memutuskan untuk sama-sama pergi ke lubang yang dinamai cinta, bukankah kita tak pernah sekalipun menyebut cinta, dari segala jenis ucapan yang ada.

Setelah sedikit jauh seperti ini, dimanakah bahasa ilalang, bahasa gula-gula, dimanakah bahasa tentang kopi, dan sederetan tulisan yang bikin kita mabuk kepayang awalnya.

Surat cinta pertama ini sampai pada pagi yang kesekian tanpa makna pagi yang sebenarnya. Hanya aku sendiri yang makan di meja, lalu pergi ke kantor tanpa diselipkan pelukan atau satu kecup dikening seperti drama-drama di segala cerita tentang pagi yang harus dimulai.

aku, yang rindu. pada surat cinta tak bertuan.
“I’m sorry I wrote you such a long letter; I didn’t have time to write a short one.”

Iklan