Potret Bromo dalam waktu singkat


Siapa yang bisa tahan rindu pada Bromo yang seperti ini;
Sore hari berkeliling kebun kol bersama kuda 100ribu sewaan dari Bapak-bapak berkupluk depan penginapan.
Lalu malam tak henti meneguk kopi yang cepat sekali dinginnya.
Menggigil sambil celoteh tak berujung menunggu pukul 2 dini hari dijemput jeep sewaan untuk melihat matahari terbit di bukit jauh sana.
Tipikal pagi yang rusuh bersama ratusan jeep adalah mutlak terjadi di Bromo, jeep berjejer di jalanan sempit bukit Pananjakan yang selalu macet, tak absen juga penjaja ojeg lalu lalang rebutan cari penumpang yang malas jalan. Sementara di bukit manusia sudah berkumpul cari tempat terdepan yang katanya hendak mengabadikan moment sunrise terbaik di Indonesia, Ya di Bromo salah satu tempat dimana kita bisa menikmati golden sunrise. Tapi nyatanya lebih banyak yang sibuk dengan shutter kamera, timer hape untuk selfie daripada diam seperti saya yang sesekali meneguk susu coklat yang sudah tidak ada hangatnya sama sekali. Itu Bromo dahulu, yang saya kangeni.

Tapi Bromo yang kali ini ternyata jauh dari bayangan sempurna untuk liburan yang damai. Jadwal ketat dari pihak tour travell,  lalu telat ke Pananjakan karena start saya yang kejauhan dari Tumpang tapi bangun kesiangan, jalanan Pananjakan macet keterlaluan yang akhirnya harus bayar 200rb untuk ojeg biar bisa ke spot enak lihat sunrise, too much people sibuk mengacungkan tongkat selfi ke udara dan merusak pemandangan, banyak foto saya terganggu tongsis-tongsis masa kini itu. Terlalu riuh bila ingin damai menikmati liburan di Bromo pada long weekend seperti ini. Bromo jadinya seperti wanita cantik yang diperebutkan banyak orang. Dilema lagi untuk pariwisata Indonesia. Banyak orang bukti bahwa pariwisata maju, tapi khawatir juga terlalu over expose yang berakibat alamnya cepat ternoda dan sampah yang menggunung. Semoga tak terjadi seperti itu.

Bromo kali ini juga jadi kurang afdol tanpa mengunjungi kawah Bromonya sendiri, saya skip karena pihak travell sudah wanti-wanti kita semua bakalan telat bila ke kawah. Walaupun sebenarnya saya malas juga ke Kawah naik tangga, lalu lihat asap mengebul-ngebul dari dasarnya. Hanya saja seperti tak ke Bromo kalau tak ke kawah gunung Bromonya.

Bagaimanapun juga, terimakasih saya sampaikan pada kantor yang sudah membayar semua akomodasi selama liburan. Setidaknya saya bisa jadi ‘saya’ dengan tidak terjebak di kubikel melulu tiap senin-jumat. Udara Bromo menjadikan saya sebagai manusia yang harusnya seperti itu, memakai celana casual, sepatu bukan high heels,  pakai topi, dan udara bebas yang segar bukan dingin AC kantor yang tiap hari rame.

Sepertinya saya akan selalu mau bila diajak ke Bromo, lagi dan lagi. Tapi tentunya dalam keadaan yang lebih santai dan tidak diikat jadwal travel yang ketat. Apalagi kalau yang ngajanya kamu πŸ™‚

image

Bromo

image

Sunrise

image

Selfie

image

Old man

image

Happy me

image

Pasir berbisik

image

Oldman


image

Bunga liar ungu

image

Desa Ngadas

Happy life, me.

Iklan