Menjadi cerita


image

Bisakah kita menjadi cerita yang manis-manis saja,  seperti yang kau utarakan, bahwa aku adalah gulali yang kau temukan di tengah samudera lepas.

Kembali pada apapun yang disuratkan sejak 12 minggu awal kehidupan, atas apapun itu mengenai ketentuanNya. Kita hanya sekedar merangkai, memintal, menulis, membaca, menjejaki jalan yang untuk aku, kamu, ternyata adalah pilihan yang sama. Misalnya kita memilih mendengarkan musik yang sama, misalnya kau yang tiba-tiba harus membaca tentang segala kesenanganku, lalu aku yang jadi membaca tentang mesin motor apa yang sedang kau kerjakan, agar segalanya bisa sejalan. Alasan klasiknya agak obrolan kita nyambung.

Bahwa tiba-tiba kita terjebak, atau sama-sama menjebak diri kita sendiri pada satu waktu dimana sungai menemukan muara di satu pagi yang tanpa malam. Berbicara tentang banyak hal bahwa kita harus saling menyelamatkan. Menemukan irisan tentang mimpi yang harus sama-sama kita jadikan nyata. Bukankah kita sama-sama tahu mengenai, a dream you dream together, is reality. Disanalah mulanya. Menurutku, yang juga menurutmu, kemudian.

Aku yang biasanya meluap-luap bak ombak, tetap seperti itu. Menjadikan kamu sebagai pasir yang memeluk erat ombak sekaligus menenangkannya pada tiap hempasan. Aku tidak harus berubah katamu,  biar aku saja seperti yang adanya, lalu kamu adalah yang menyeimbangkan. Lega aku jadinya, tenang aku kemudian. Setelahnya, tak ingin aku meluap-luap bagai ombak lagi, hanya ingin bergelombang-gelombang seindahnya, lalu mengiyakan apapun dalam lingkaran yang bergerak dinamis menuju selalu kamu.

Bila kita akhirnya kita meragu atas apapun yang dipilih sekarang, ingatlah tentang sunrise dan sunset yang telah kita yakini akan dilihat berdua, disatu tempat pada waktu yang berulang-ulang.

Sebuah surat disaat hidungku kambuh.
A letter from your ‘dede si galendo’

Iklan