Benda mati bernama rumah


Pada usia 24 tahun saya memutuskan untuk membeli rumah, niat saya saat itu untuk menyelamatkan hidup dari ketidakpastian. Pikir saya juga,  kalau sudah punya rumah saya akan tenang menghadapi masa tua, ada tempat berteduh, ada tempat pulang yang dinamakan benar-benar rumah, sebuah benda yang namanya rumah. Benda mati.

Terdengar sangat klise memang saat itu, sedang sendiri dan hampir tidak punya rencana jelas dengan masa depan menjadi alasan aneh kenapa akhirnya saya ambil keputusan untuk membeli rumah. Yang jelas terbayang adalah saya akan tinggal di rumah tersebut berpisah dari ketergantungan pada orangtua, mulai belajar mengatur rumah tangga sendiri, belanja bulanan sendiri, masak sendiri, liburan weekend di rumah sendiri sambil membaca buku. Gambaran tersebut membuat saya tanpa pikir panjang membeli rumah, hampir tidak terbayang bahwa nantinya akan ribet dan males untuk renovasi dan beli isi perabotannya.

Dan … sore ini saya lihat benda mati yang saya namai rumah itu, saya tak habis pikir besok rumah itu akan dibongkar. Kerena kedepan memang rumah itu akhirnya tidak akan saya tempati sama sekali. Awal tahun saya akan pindah ikut suami ke daerah sebelah. Sungguh lucu rasanya bila saya ingat-ingat kembali alasan dulu tiba-tiba beli rumah. Perkara tanah bekas rumah itu akan saya jadikan apa, sayapun tidak tahu, saya berencana membangun kembali rumah mini dengan satu kamar tidur, perpustakaan mini, kolam ikan, mungkin jadinya rumah itu hanya akan sekali-kali dikunjungi.

Jadi ingin ketawa akhirnya, ngapain sih pas galau dulu beli-beli rumah segala

 

Iklan