Terlahir menjadi Ibu


Melahirkan anak adalah sekaligus melahirkan diri kita sendiri menjadi seorang Ibu. Kita dipilih menjadi Ibu oleh anak yang lahir dari rahim setelah melalui proses panjang 39 minggu lebih 5 hari. Dia memilih sendiri tanggal lahirnya 16 Desember 2017, setelah gempa yang sedikit menggoyang lantai rumah sakit, 4 jam kemudian dia lahir dengan tangisan kecil.

***

Memasuki usia kandungan 38 minggu akhirnya saya ambil cuti, mengingat terlalu riskan rasanya harus tetap kerja disaat perut makin besar, awalnya ngarep bisa lahiran lebih cepat dibanding HPL yang saat itu masih sekitar 2 minggu, biar cuti lebih lama setelah melahirkan. Sepanjang cuti sebelum melahirkan rasanya hanya dihabiskan cuma buat tidur, jalan-jalan, nonton, makan banyak, sedikit olahraga dan yoga.

Sampai akhirnya tibalah pada tanggal 15 hari kamis selepas shalat isya tiba-tiba keluar flek darah, langsung deg-degan dong karena ini adalah waktu yang sangat saya tunggu. Pasti mau lahiran. Sampai jam 9 malam masih ada keluar flek lendir dan sedikit mules tanda-tanda kontraksi, tapi sampai saat itu belum berani bilang suami, karena pasti dia bakalan panik dan nantinya kekeuh langsung pergi ke dokter. Menjelang tidur jam 11 malam barulah saya bilang ke suami kalau sudah ada tanda-tanda melahirkan, otomatis dia langsung siapkan mobil dan perlengkapan melahirkan dengan muka panik tapi juga semangat, padahal saya bilang masih kuat nahan mules dan rencana pergi ke dokter besok paginya saja. Akhirnya malam itu dilalui dengan mules-mules tapi happy karena bakalan segera ketemu bayi dan suami tidak tidur semalaman karena masih tetap panik. Alhasil kita bisa curi waktu tidur sekitar 2 jam menjelang subuh.

Jam 5 pagi kita bangun, karena ada bidan datang untuk cek awal. Disuruhlah kita buat ke dokter saja memastikan semuanya biar lebih afdol. Lanjut sarapan dan mandi, dandan setitik, tak lupa pake baju belang-belang favorit *penting*. Sekitar jam 7 pagi pergi ke RSIA cahaya bunda, sepanjang jalan kontraksi mulai teratur tiap 5 menit sekali tapi dengan waktu yang singkat. Saking pelan bawa mobil satu jam dijalan rasanya lamaaaaa banget, nyampe RS langsung masuk IGD dan dibawa langsung ke ruang tindakan dilanjut Observasi oleh bidan dan baru pembukaan 1, bidan menyarankan saya untuk pulang lagi karena katanya bakalan lama sampai proses melahirkan, tapi kami memutuskan untuk langsung reservasi kamar dan memilih menunggu di rumah sakit sambil terus dipantau.

Observasi bidan dan dokter memutuskan untuk induksi karena setelah 8 jam hanya sampai bukaan 2. Padahal saya niatnya ingin melahirkan tanpa intervensi obat-obatan, tapi apa mau dikata, rasanya ingin segera bertemu bayi yang ada di perut besar saat itu.

Satu labu induksi habis tengah malam namun masih stuck pada pembukaan 3, padahal rasanya kontraksi makin intens, makin mules. Sempat putus asa, kok ini lama banget ya ke bukaan 10 buat ngelahirin. Dokter memutuskan untuk saya istirahat dulu 2 jam sebelum diberi induksi lagi. Disela waktu istirahat itu, gempa terasa sangat besar. Bingung plus kaget gimana cara kabur takut ada gempa susulan. Cerita gempa pas kontraksi ini sungguh jadi bahan guyonan tiap diingat.

Jam 1 dini hari ditanggal 16 desember, induksi dilanjut kembali. Kali ini rasanya makin menjadi, mules makin hebat tapi bisa diatasi dengan nafas teratur dibimbing suami yang setia ada disamping kiri, tangannya tak lepas dari genggaman, matanya tak pernah hilang dari pandangan. Semua seakan berjalan cepat, sejam berlalu langsung pembukaan 7 lalu langsung pembukaan 9. Rasanya sudah tak karuan, bawaanya langsung ngeden padahal bukaan belum lengkap. Tak lama berselang dokter Yasmin datang dan semua peralatan persalinan disiapkan, dalam hati sudah menerka mungkin ini saat-saat melahirkan. Sekitar 30 menit proses ngeden akhirnya dengan nekad melawan sakit dan ikhlas menerima sakitnya, alhamdulillah dengan kekuatan yang entah jadi bertambah berkali lipat kepala bayi keluar dan rasanya plong melahirkan bayi secara utuh diiringi hilangnya rasa sakit yang dirasakan sebelumnya. Bayi menangis, lalu bayi dibiarkan bernafas didada bersama. Syukur tak terhingga akhirnya bisa selamat melahirkan sebuah harapan baru, melahirkan peran baru, menjadi seorang Ibu untuk bayi yang kehidupannya ada dalam pelukan kita sebagai Ibu.

Ilana, panggilan bayi yang sekarang usianya 10 hari. Pagi ini Ilana baru ganti pokok sehabis pipis dan nyusu. Saya menulis sambil sesekali melihat Ilana membuat gerakan kecil sambil tidur dan sesekali tersenyum. Kadang masih tak menyangka Hanif yang dulu masih jauh pikirannya mengenai menjadi seorang Ibu, sekarang terlahir menjadi seorang Ibu.

Ilana anakku, Ibu sayang kamu.